Sabtu, 04 Mei 2013

Sekuel ~ 5,27cm

5,27cm
8pria, tanpa cinta, sebuah penasaran, membuat trauma

         Ntah dari mana aku harus bercerita, tapi ini adalah prinsip seorang laki-laki, maju sebagai pahlawan kesiangan, mundur sebagai pecundang atau maju mundur ditengah jalan membuat sensasi (itu keren). Ini masalahku dan kakakku (kak Diqi), kesibukan kami berdua ngebuat kita kurang kenal dengan Alam, yahhh. ..penyanyi mbah dukun, secara mengejutkan ternyata kakakku penggemar berat hal yang berbau dengan anime, ngefans banget sama Alam, sering kakakku ini mempraktekkan lagunya lalu nyemburin kemukaku.(aku tersipu malu)

       Walaupun kakak adik, kita mempunyai pola pikir yang sangat berbeda, seperti atom proton dan elektron yang selalu aja bertolakan, bukan gengsi sih, tapi masalah kesukaan, kalau kakakku sukanya lagu nagi, aku sukanya Guns n roses, kalau kakakku sukanya push up, aku lebih suka sit up, masalah pelajaran misalnya, jika ditanya apa rumus phytagoras kakakku langsung bisa ngejawab, kalau aku mendingan ngasih saran buat belajar yang rajin. Dibalik problem disemua perbedaan itu, ada kesamaan dari kami, rasa penasaran.


Prolog mengolok-olok
          Kak Diqi adalah orang yang polos tapi keren (jujur, nggak bisa aku bayangin), dia kalem tapi gaul, dan yang terakhir, dia itu ternyata lucu tapi nggemesin. Ntah kenapa, semenjak kuliah kakakku ini lebih suka ngehabisin rambutnya daripada uang jajannya, sepertinya dia lebih mirip Ony Syahrial jaman dulu.(gimana pun aku harus muji kakakku).
                                            
Kisah                                                              
          Cerita berawal dari rasa penasaran kami berdua, aku merasa harus keluar dari zona amanku, menuju ke zona steak, aku pesan double steak, kebetulan hari jum'at dan alhamdulillah dapet gratis satu porsi. (temenku susanto duduk manis sebagai figuran, ngeteh sambil mainin hp mitto terbarunya). Lanjut cerita, aku ngerasa diriku ini cuman anak rumahan, begitu juga dengan kakakku, yang cuman tau mall mall dan mall, kerenkan?? Aku udah bosen naik eskalator, aku bosen naik lift, dan kemudian terbesit dalam pikiranku ide buat naik gunung. Kak Diqi setuju dengan ideku, tapi kakakku ini obsesinya sama film terlalu tinggi, jadi, dia nyuruh aku sama dia buat nggak ketemu selama 3bulan, apa-apaan ini? tiap dia balik kesolo nggak mungkin aku ngunci dalam kamar terus-terusan, aku nggak setuju dengan obsesinya dia sama film yang berlebihan, akhirnya kita ambil jalan tengah nggak ketemu selama 3 menit, kakakku langsung ngumpet kekamar mandi.

        Rencana buat menjadi pencinta alam sementara udah bulat, tapi, sebulat apapun rencana itu, kalau nggak dapet sertifikat dari orang tua, pasti semua akan sirna terterpa angin. Jadi, akhir-akhir ini kita berdua lebih rajin berdoa, ngeberesin rumah, lebih ramah sama adik-adik, dan lebih rajin mandi, dengan harapan dibolehin mendaki pastinya. Hal pertama yang harus diperhatiin waktu mau ngomong sama orangtua : kita harus pinter ngebaca suasana hatinya, kita harus ngomong pada waktu yang tepat (disarankan jangan diatas jam 12malam), paling nggak kita ngomongnya waktu ada kabar gembira dari lingkup keluarga, 80%lahh berhasil, asal nggak neko-neko aja mintanya.

"Alhamdulillah adikmu Nabila matematikanya dapet 100."
"Wahhh .. bagus.. .bagus. Ma, boleh muncak nggak?"
"Muncak? dimana? sama siapa aja?"
"Iya ma, rencana dilawu, sama kak Diqi, kak Rian (kakak sepupu), kak Yusuf dan kak Fajar (yang juga kakak sepupuku)."
kak Diqi semakin menggila, dia selalu bilang "pliss. ..pliss (sedikit merengek)." waktu aku nanya boleh atau nggak.
"Iya tanya sama Papa dulu boleh atau ndak"
"Pa, boleh muncak Pa?"
"Pliss. ..plisss."(suara agak samar).
"Coba tanya keMama dehh."
Yaampunn kapan kelarnya ini???
"Pliss. ..pliss." (lama lama suara mengecil dan kemudian menghilang).
"Iya, boleh. ..boleh, tapi, udah ada yang pernah kesanakan? takutnya ntar tersesat gimana?hayooo."
"Udah kok Pa, kak Rian sama kak Yusuf."
"Yaudah, Mama juga ngebolehin, tapi nggak usah pakai ambil jalan pintas hlo, bahaya."
"Okee, sipp Ma !!"
(semenjak udah dapet restu, aku jarang ngeberesin rumah, begitu juga dengan kakakku).

       Restu udah aku kantongin, ntah kenapa semakin mendekati hari H instingku sebagai anak rumahan selalu mengusikku. Aku mulai berlatih dirumah buat bekal digunung nanti bareng adikku Taufiq (Adiknya Thoriq), aku berlatih minta tolong, siTaufiq jadi team SARnya. Aku gletakan dibawah tangga minta tolong "Tolong-tolong.. .", adikku Taufiq dateng bilang "Tilut ... tilut. .." aku langsung bangun, "Digunung nggak ada ambulance!!", okee, ulangi satu kali lagi, aku gletakan lagi "Tolong-tolong !!" Adikku dateng, "Okee kakak, aku akan ngasih tenaga tambahan, ciu. ..ciu.. ciu".(aku ngerasa diajakin main ultramen-ultramenan)

         Personil mendaki band ternyata bertambah dihari H-1, Anggotanya sekarang menjadi 8 pria ganteng yang boy band banget, kebetulan dari 8 Gentlemen itu akulah yang paling muda, lebih tepatnya belum cukup pengalaman dalam kerasnya kehidupan (waktu itu jaman kelas 2 smk), jadi tuntutan aku kudu nulis pakai kak semua, siall. ..sial. Posisi : Aku (Boss) ,Kak Diqi (Marketing) ,Kak Rian (Leader), Kak Yusuf  (Pemasaran), Kak Fajar (Gitaris), Kak Warno (Sales), Kak Supri (Fotographer), dan Kak Sunar (Atlet Pinpong).
                                                         
          Dihari H, bayanganku dengan puncak lawu semakin matang, dari cerita-cerita yang udah aku tangkep aku bisa nyimpulin bahwa bakalan dibayangan aja yang mudah, bukan direalitanya.

          Semua udah prepare, rencananya kita berangkat habis dzuhur. Aku udah siap dengan jaket parasitnya the Beatles, celana 3/4, dan nggak mungkin kalau aku makai sepatu high heels, buat apa??. Kami melangkahkan kaki, kanan lalu kiri, kiri lagi, lalu kanan, kita menuju keorang tua, pamitan, minta doa restu, rasanya berat bangettt, apalagi tasnya. "Ma. ..Pa. .pamit dulu ya." seperti biasa kita salaman cipika cipiki dan hal yang ditunggu-tunggu akhirnya terwujud, dikasih uang jajan, seandainya nggak jadi berangkat, setidaknya uang udah ada digenggaman (prinsip seorang petualang).

         Rombongan yang jadi leadernya kakak sepupuku (kak Rian), dari segi wibawa dan ngambil keputusan dia udah dapet.  Perjalanan kira-kira bakalan 2jam, sedangkan delivery pizza cuman 30menit.


                                           *Waktu diperjalanan* Ngliat orang lagi naik motor

          Ditengah perjalanan, sempet tadi ada sedikit hambatan dari orang-orang yang lagi touring bareng motor mogenya, klakson polisi, dengan sound sistem kayak tukang rosok depan rumah, "Ayo minggir. .minggir." sambil melambai-lambaikan tangan, merasa jalannya milik nenek *angkatnya* sendiri. Sempet tadi gara-gara mancet waktu dijalanan nanjak, aku kudu turun dulu sambil ngebawa tas yang gedenya seBabi hutan, aku dilihatin banyak orang, mereka melihatku secara iba, kupastikan penampilanku tetep okee, aku memasang wajah yang meyakinkan seorang pendaki biar terlihat jantan, aku juga meyakinkan kesemua orang sekitar yang melihatku bahwa aku kuat bawa tas ini, yahh keren. Sejujurnya, Kak Yusuf membantu mengangkatnya dari belakang.

Cemoro sewu
                                                             *sampai dimasjid cemoro sewu*

         Ashar, kita sampai dengan elegant, sehabis sholat ashar, kita mulai melangkah, langkah demi langkah seorang pendaki, kita tengok kanan, tengok kiri, sebetulnya kita ini lagi mau nyebrang jalan dulu, kemudian baru sampailah dicemoro sewu. Kita daftarkan nama kita, misal bakalan terjadi apa-apa, yang penting dirumah udah latihan.:)

Welcome to the jungle
        Masuk diarea cemoro sewu aura langsung beda, bau keringat laki-laki sejati udah bisa aku rasain, yahhh. .. aku berada diruang bebas, nggak ada TV, Mobil apalagi lapangan pingpong. Sebelum kita melakukan pendakian kita makan dulu dibangunan yang mencekam, banyak tulisan, nomer hp, email, dan yang paling aku inget ada tulisan "andre pernah disini lhooo!!"(lhoonya andre terlalu berlebihan)

                                 *Angel dari atas*Salut sama yang ngefoto, sampai manjat-manjat

         Karena dicerita ini aku pengen nyritain sedetail-detailnya, jadi, aku bakalan ngasih tau lauk apa yang aku makan difoto, secara sengaja laukku emang beda sendiri, yang lain pakai lele, akunya pakai ayam goreng, soalnya, selera makanku akan berkurang dengan lauk lele yang udah dingin, alasan lumayan logis, minumnya pakai pocari sweat, buat nambah ion tubuh, kebetulan sebelum berangkat aku beli dulu diwarung sebelah, nama penjualnya pak Toni. Udaahlahh, nggak detail-detail juga kali.

          Nggak sabar pengen foto-foto narziz diatas puncak, kita memulai perjalanan dengan "Bismillah.", kita berkumpul melingkar, kak Rian memimpin doa, "Semoga kita diberi kemudahan dalam perjalanan selama pendakian.Aamiin. ..". Sinyal hp udah mulai terbenam, jadi nggak bisa bikin status buat ngasih tau keberadaanku saat ini (biar terlihat jantan). Hujan rintik mulai berdatangan, kita sekalian pakai mantol yang lumayan absurd, karena untuk saat ini penampilan nggak penting.

                                                       *mantol paling absurd* Biru tua

    Sejauh ini medan masih bersahabat, Kak Rian terus melangkah berada didepan, sedangkan kak supri sebagai fotografer menjaga kawanan dari belakang. Selama perjalanan, karena aku nggak pingin ngebayangin yang enggak-enggak jadi aku ngebayangin yang logis, aku ngebayangin gimana kalau aku waktu ngendaki bawa galon? gimana kalau waktu ngendaki aku jalannya kaki kanan sejajar sama tangan kanan? dan kak Fajar pun memecahkan lamunanku.
"Gimana ud? lumayankan?"
"Iya, masih belum begitu menantang sih."
terus aku tanya ke kak Rian.
"Masih lama nggak puncaknya kak?"
"Haduhhh, pos pertama aja belum."
semenjak dengar jawaban itu, aku langsung pingin pulang.

    Hujan semakin membabi buta, gelapnya malam udah mulai berani menampakkan diri, dari waktu itulah pertualangan sesungguhnya dimulai, kita sampai dipos pertama, berteduh, santai, dan rindu rumah.
"Kita magrib sama isya' disini, habis isya' kita naik lagi dan bermalam dipos 2, okeey" Rencana kak Rian.
"Okeey!!" teriak Kak Sunar paling kenceng.
     
     Kita mulai makai barang-barang bawaan yang udah saatnya dipakai, tutup kepala, sarung tangan, dan rankap baju setebal mungkin. Sambil nungguin hujan reda, kita ngemil kacang, mitosnya kacang itu bikin jerawatan ya???. Kacang kulit aku buka, krukss (suara kulit), aku makan satu persatu (umumnya isi dua) dengan sedikit tangan menggenggam, dua jari megang butiran kacang, kraks... .krakss (suara kriukan) pandangan tajam menghadap lurus, tapi pikiran berada dikasur empuk rumah. "Nggak seindah yang aku bayangin, cuaca kayak gini enaknya nyantai dirumah.", aku mulai rentan galau, jiwa anak rumahan selalu mengusikku.

                                                             *Pos 1* Emang gini keadaanya

                                                      *Curhat* KANGEN RUMAH !!!

   "Semangat dong !! atau pulang aja?"Kata Kak Rian
   "Iya janganlahh, cuman dinginnya aja yang nggak kuat."
   "Iya emang gini kalau muncak, ntar kalau sampai puncak pasti ilang deh capeknya." Kak Fajar nambahin
   Meskipun sedikit kurang percaya sama sugestinya, gimanapun rasa penasaranku semakin kuat.
   "Kayaknya udah mulai reda, langsung naik aja yukk!!!"
 
   Kak Rian melangkah pertama, diikuti, aku dan yang lain dibelakang, masing-masing pegang senter karena udah mulai gelap total, medan mulai menanjak nggak karuan, ada beberapa jalan pintas, tapi cukup sulit buat menggapainya, kebanyakan jalan pintas itu dibuat agak memanjat, resikonya lumayan, apalai pas hujan. Aku yang nggak biasa dengan tempat seperti ini jelas-jelas tiap beberapa menit minta istirahat. Tiap ngeliat keatas berasa diPHPin, berharap itu adalah puncak, tapi mustahil, pos kedua aja belum nyampai, hujan makin menjadi jadi, suara angin makin jelas, kesalahanku yang mulai aku sadari adalah jangan muncak makai skinny jeans. Aku nggak bisa duduk, air hujan kini udah menyerang celanaku, aku tersiksa.

     Sampai dipos kedua, pos kedua malah udah tergenang air, sialan bangettt, pendaki lain banyak juga yang lagi istirahat disitu, tapi cuman duduk-duduk diatas pembatasnya. Dipos dua ini kita cuman ngumpulin tenaga buat jalan, suasananya hening, nggak ada yang ngomong, emang karena semua udah pada capek, keadaan yang nggak memungkinkan dibuat bermalam jadi kita putuskan langsung menuju pos ke3 keburu banyak yang makai. Pos ketiga adalah pos terakhir yang berbentuk bangunan, dan disitulah harapan terakhir kita buat istirahat.


"Gimana? lansung kePos 3?" kak Rian tanya.
"APAA???" jawabku mangap.
"Nggakpapa ud, biar cepet nyampainya" siOny sahrial menjawab dengan lelah.
"Ya ya ya, kita lanjut."

    Diperjalanan menuju pos ketiga, kita nggak boleh ada yang ngelamun, jarak tiap orang kurang lebih 2m, nggak boleh ada yang bercanda, ketawa berlebihan apalagi joget, bakalan menguras tenaga bangett.
"Jangan pada ngalamun ya !!"
"Buat ngobrol aja tapi nggak usah brisik."
"Ehh. .ud, pernah denger kata-katanya Kahlil gibran yang ini 'Kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang.' tau nggak?"tanya kak Yusuf
"Wahh keren ya! terus intinya apa kak?"
"Emm. .kurang tau juga sih."
"Ohh gitu.. ."
hening lama... ..
"Kalau kata-katanya Aristoteles yang ini 'Penderitaan menjadi indah ketika seseorang menghadapi kesulitan besar dengan keceriaan, tidak dengan keterpurukan tapi dengan kebesaran pikiran.' tau??”
"Emmm. .lumayan paham sih."
"Jadi gini maksutnya." 220 langkah kemudian.
"Ehhh. ...kita udah nyampai pos ketiga, yeee yeee"
"Kayaknya kita kehabisan tempat deh." 
"Hah??"
"Iya, posnya udah penuh."
"Yaudah, kita semuakan juga udah pada capek, mendingan kita buat tenda dari mantol aja.gmn?"
Aku udah diem pasrah, mau tidur dimana aja yang penting bisa istirahat.
"Kalau gitu, kita nyari tempat yang pas dulu."

Jadilah rumah sementara seperti ini, nggak begitu canggih sih, tapi AC alaminya berasa (bangett).


                                 Tidur dengan sudut kemiringan 45derajat membuat mimpi semakin indah

                                                           Tidur, tapi kayak nggak tidur gitu

  Yang lain udah pada tidur, termasuk aku yang tidur tapi cuman merem dalam penderitaan, celana yang aku pakai udah mulai hipotermia, dari pada mimpi yang enggak-enggak mendingan aku ganti celana sekarang, aku ganti celana 3/4 yang tadi aku pakai waktu berangkat, terus dilapisi celana mantol biar kesannya kayak kostumnya iron man, waktu ganti celana agak sedikit ngeselin juga, gara-gara tendanya sempit banget, jadi nggak bisa berdiri tegak, kampret banget pinggangku kram, yaaammmmpunn tolong. ...tolong aku kram, yaudah terpaksa aku nyundul-nyundul tendanya biar posisi berdiriku agak tegak, huhhhh ..agak lega juga setelah semua terpasang dengan pas.
   Kurang pas rasanya kalau jauh-jauh dateng tapi nggak main api unggun, jadi aku putusin buat mantau keadaan diluar, Kak Rian, Kak Supri sama Kak Yusuf yang nggak dapet tempat, masih diluar makan makaroni rasa asin level 03. Kak Yusuf yang insting petualangnya udah lumayan tajam mulai nunjukin ilmu-ilmunya, 'Bikin wedang jahe'.
"Bikin jahe yukk ud!!"
haa?? nyari jaheee? (sambil cilngak clinguk disemak-semak)  
haa?? diakan suka.... Nguuupill, Waaaa. ... illlfeellll .....
(iklan bentar, lanjut nulis lagi)
 
   Sekilas sambil nyemil makaroni aku liat ditenda tetangga pendaki lain yang tidurnya pada bisa nyenyak-nyeyak banget, rasanya aku pengen masuk kemimpinya lalu ngobrak-ngabrik mimpi mereka, kami sebagai pendaki minoritas merasa terhina. 
     
                                           *Crapp*Kak Rian lagi makan makaroni level 03, dinginnya level up

Jam 04.00 semangattt !!!

   Rencana awal kita harus udah nyampai puncak sebelum subuh, biar nggak kesiangan juga, jadi kita jam 4 langsung cabut siap-siap buat nglanjutin pendakian menuju kePos terakhir, Pos 4. Pendaki lain udah ada yang dari tadi berangkat, karena seperti awalnya kita berada dikaum Minoritas jadi berada diposisi belakang. Diperjalanan, kalau ngelihat keatas berasa pengen guling-gulingan kebawah, tapi nggak mungkin karena disekitar batu semua. Rasanya udah mau nyerah tapi nggak bakalan nyerah, tiap berhenti sebentar pasti aku gunain buat tidur sesingkat-singkatnya.
   
   Menuju Pos ke4 langkah Kak Warno semakin membabi buta, dia terus melaju dan minta ijin buat duluan, sedangkan aku dengan rasa kantuk yang semakin menjadi jadi minta ijin buat istirahat sebentar.
"Bentar bentar. ..istirahat dulu. biar nggak panik"
  

                                      *IronMan*Apa hubungannya?? Iya, cuman filmnya aja lagi ngetren

 
"Ayo lanjut lagi, bentar lagi juga udah sampai pos 4."
suara yang enggak aku hirauin, karena aku udah berada dimimpi indahku
Beberapa saat kemudian, aku mulai sedikit sadar dengan kedaanku, bagaimana pun aku harus bisa ngelawan dan bangkit bangun ngelanjutin pendakian. Aku lihat kak diqi juga bangung masih dengan wajah ngantuk, sedikit menguap dan mangap-mangap, aku mulai sedikit ketakutan, aku kucek-kucek mataku lagi, ternyata kak diqi lagi tersenyum kepadaku.
"Ayo bangun anak manja !!" kak diqi mengusikku.
"Iya. .iya." 

   Kita sampai diPos ke4 pas waktu subuh, ternayata udah banyak pendaki yang sampai duluan, bermalam dipos ke4 dengan tenda mereka. Kita sholat disana komplit dengan perlengkapan, karena dinginnya nggak main-main.  Kak Sunar Siremaja masjid mulai mengumandangkan adzan, rasanya semangatku makin bertambah luar biasa, sampai dititik ini aku merasa udah kayak jadi pria iklan L-men, semoga nanti sampai dirumah perutku udah kebentuk 6 kotak, terus dikontrak jadi bintang iklan L-men, rating iklan L-men bakalan meningkat drastis habis itu aku ingin menambah pengalaman berganti keiklan gery salut.

   Dipos ke4 ini udah nggak ada bangunan, cuman lahan yang luas, dan pemandangannya udah diatas awan.

                                                         *Eksotis*Butuh perjuangan

    Kak Warno udah nyampai duluan dari tadi, emang sialan bangett, dia udah sholat subuh duluan diwarung orang. Dipos ke4 ini ternyata ada warung, dari prediksiku pasti harganya berlipat-lipat karena buat nyampai disini aja udah pengorbanan banget, juga ada WC umum yang airnya harus diambil dari sendang. Berikut Tutorial keWC umum dengan benar.

                                            *1* Ambil dulu air dari sendang dengan senyuman

                                                         *2* Masuk ketempat ini secara bergantian dan apa adanya
  
                                                  *3* Keluar dari WC umum makin cool

  Nggak pengen buang-buang waktu, kita semua langsung lanjut buat nyampai daratan terkahir dan paling tinggi, puncak lawu. Dari tadi aku yang paling ngeluh sekarang giliranku yang paling semangat.
"Ayo. ..ayo, cepetan , keburu mataharinya muncul !"
"Gaya . ..yang tadi paling ngeluh sekarang jadi paling semangat ya ." Kak supri bilang sambil jbret-jbret kamera
"Hehe. .. kan bentaran lagi juga nyampe"
"Bentaran gimana?"
"Maksutnya gimana?" aku langsung duduk push up sebentar terus berdiri lagi

   Buat nyampai puncak, sebenernya jaraknya nggak begitu jauh, tapi kemiringannya lumayan berasa, dengan rintangan-rintangan pohon kita harus berada dipijakan yang bener, untuk berpijak ketitik satu ketitik yang lain kita harus menghitung rumus sedut kemiringan dengan phytagoras, disini pelajaran yang udah diajarin guru matematika sangat berperan penting, jadi keinget guru matematikaku dulu waktu smk "Pak Arif~gambling adalah jurus andalannya".
"Eehh. ..ud, jaga jarak, kok mepet banget gini, nyandung kaki tau !!" Kakakku protes demi keselamatannya
"Iya sorry-sorry"
"Masih jauh ya?"
"Bentar, dikit lagi juga nyampe."
"Setengahnya udah ada belum?"
"Emm. ..mungkin udah ada."
Kita terus berjalan, menulusuri pohon-pohon pendek.
"Hati-hati jalannya, pegangan pohon."
"Kak !!!!"
"Kakakkkkkkkkkk !!!!!!!!!!!!"
"Iya ada apa ud?"
"Tuhh kak liat !!"
"Wahhhh. ..ada tugu"
"nggak nyangka kita udah sampai dititik ini."
Tawa terpecah "hahahaa.. ."  
   Dipuncak tertinggi yang telah aku pijak, dengan rasa penasaran yang membawaku hingga sampai disini, rasa trauma sampai saat ini, kita mendapatkan sebuah pelajaran yang luar biasa, jarak 5,27cm itu menyandung kaki.

                                                                                                  Bukti LAKI

                                                              Dulu, aura model belum begitu melekat
                                       Atas (Dari kiri) : Kak Rian, Kak Yusuf, Kak Sunar, Kak Supri
                                                   Bawah (Dari kiri) : Kak Diqi, siCakep, Kak Warno, Kak Fajar

                                                           *Kakak Adik* saatnya update status

                                                               3 terbawah dalam pendakian

                                                     *Penyuting terakhir* Kak Supri

(OST. Ampar-ampar pisang)

Ampar-ampar pisang
Pisangku belum masak
Masak sabigi dihurung bari-bari
Masak sabigi dihurung bari-bari
Mangga lepak mangga lepok
Patah kayu bengkok
Bengkok dimakan api
Apinya canculupan
Bengkok dimakan api
Apinya canculupan
 
Terinspirasi oleh : Novel 5cm~Donny Dhirgantoro

                                                                                                                                                                                                                                                                                                  

13 komentar:

  1. yuhuuuuu. ...enek seng ngomentari aku wes seneng tnan riz, walaupun kwe.xixixi

    BalasHapus
  2. ndelok sekilas wae wes ktok apik uud , oponeh moco kabeh . hmmmm
    ~awesome~

    BalasHapus
  3. hehe. ..makane nid diwoco, mesti dadi terinspirasi.

    BalasHapus
  4. hahahaha, lucu ud, terlalu menyimpang

    #menyimpang dari otak .... hehehehe

    BalasHapus
  5. hehe. ..setidaknya fotonya bisa menjernihkan otak. :)

    BalasHapus
  6. super absurd, keren ud, hahaha

    keep posting, jangan mikir advetisement, ciptain fanbase yang kuat dulu

    BalasHapus
  7. sippp fan. :) , advetisement kwi hanya tau2 mendapat ide yang terbesit begitu saja. hehe
    ngomong-ngomong, fanbase kwi opo yo?

    BalasHapus
  8. Keren nih anak rumahan bisa naik gunung xD
    Aku sampe sekarang belum dapet sertifikat dari ortu xD
    Pernah mau muncak tapi gagal hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya dong, keren banget sumpah. Apalagi kalo cuacanya cerah, subhanallah.. .

      Diatas ada tipsnya, kamu ngomong baik-baik sama mama papamu waktu suasana cair, misal waktu ada kabar gembira gitu. Terus yang kedua, pastiin sama orang yg udah berpengalaman dan bertanggung jawab, biar orangtua lebih yakin.
      Misal tetep nggak boleh yaudah, nurut aja sama orangtua, masih belum waktunya mungkin. Good luck !! :)

      Hapus
    2. Iya semoga kapan-kapan bisa ngerasain juga deh :))

      Hapus
    3. Aamiin . ..Habis itu diabadiin jadi tulisan. :)

      Hapus
    4. Aamiin, insyaallah itu mah :))

      Hapus