Minggu, 06 Januari 2013

Jogja, Shopping syndrome (Travelling on the year Part II)

             Turun dari kereta mata langsung bening gara-gara disuguhin bule yang ternyata itu bule adalah Nicole kidman, bayangkan !! Nicole kidman ada diJogja, iya jelaslahh aku langsung demam panggung, sedangkan adikku Thoriq malah bersikap sok-sokan ling lung seakan nggak terjadi apa apa, kalian bingung?? Yeah… ketauan kalau aku udah boongin kalian, okee selesai,  bersambung dulu karena gue lagi emosi.


                                                                                *Maaf kesalahan teknis*
  

              Turun dari kereta perasaan mulai tambah beetee karena suasana mulai tambah mencekam, kedatangan kami dijogja membuat heboh para tukang ojek sampai-sampai kami bertiga dikerubungin.

“Bang, malioboro berapa?”
“jalan aja tuh diseberangan (dengan memasang muka sinis langsung cari penumpang lain)”
(Gue balas dengan tatapan sinis agak menggoda)
  
                Tujuan pertamaku dengan adikku Thoriq adalah mencari makanan berbau Jogja yang agak sedikit keparisan-parisan, sedangkan kakakku Diqi yang sok sibuk itu langsung cabut menuju kampusnya dengan ojek yang berplat nomor sekian-sekian-sekian. Bingung nyari menu makanan apa, yang jelas aku sedikit kecewa untuk mengingatnya. Yahhh. .pada akhirnya bakso dan mie ayamlah yang memenangkan demo perut kami. 

         Mimpi apaa tadi dikereta, jarang-jarang bisa meluangkan waktu makan bareng adikku yang satu ini, aku harus menjaganya sebaik mungkin, nggak akan ku biarkan preman-preman jogja mengganggunya. (Insting seorang kakak yang membara)
“Kak, habis ini kemana?”
(Polosnya pertanyaan itu)
“emm.. .menikmati keindahan jogja yang eksotis, memberi senyuman manis kesetiap turis asing berbagai negara, intinya kita akan shooping.”(menyebutkan kata shooping wibawaku menjadi seorang kakak hilang)
“Bang. .udah bang, jadi semuanya berapa?”
“semuanya 24 ribu dek”
(sial, harga turis yang dipakai, sungguh Jahatnya Jogja)
Keluar dari warung akupun uring-uringan…
“Nanti siang nggak usah makan diMalioboro lagi”
                                                        *Mencekam Gundah Gulana*               (google)

             Saatnya menyapa warga jogja, ntah kenapa setiap turis asing yang berpapasan denganku dan sekilas membaca tulisan dibajuku langsung memasang wajah pucat, seakan aku ngePHPin dia barusan.
“kak.. .jangan sok tebarpesona” adikku sok jagoan
(tau apa anak kecil) Nglirik cool sambil berkata dalam hati. (tulus)
“mau kemana nih?”
“ngikut ajalahh”
  
                Dan injakan kaki tertuju pada toko ramai pemuda, sepertinya adikku ingin mencari baju “virus” warna biru muda, namun sebelum dia membayar dikasir aku harus mencegahnya dengan sekuat tenaga.
                                                    Nggak akan aku biarin ini jadi inspirasinya


“wahh. .yang ini bagus, ehh.. .itu juga, haduhh.. . semuanya bagus” (Aku berdoa dalam hati agar adikku tidak tervonis shooping shyndrome)
Adikku Thoriq sedang berada didalam beberapa dilema, dan pada akhirnya kita keluar tak membeli apa-apa.
“Gimana sih dek? Mau nyari apa?”
“muter-muter dulu ajalah kak”
“Bingung kak, tiap masuk toko pasti diikutin SPGnya, demam panggunglah” (adikku curhat)
Aku yang merasa iba kepada adikku tak ingin tinggal diam
“Gini aja. ….”
“Wussk.. .oit.. .away..wuskk …yuhuuuu. .xixi. .gundah gulana” (bisikku)
“haha. .oke oke”
“yaudah, cabut!!”

             Aku dan adikku Thoriq mulai mencari toko untuk pembalasan dendam, kita saling bertatapan dan menoleh bersamaan kesebuah toko yang menandakan satu pemikiran. Yang pertama masuk adalah aku, kemudian diikuti adikku siThoriq dari belakang. Aku masuk mengelilingi toko tanpa peduli dengan barang-barang disamping, aku mulai tebarpesona agar salah satu SPG mengikutiku (jelas-jelas kena). Jebakan berhasil, seorang SPG berpakaian biru mengikutiku dan aku langsung keluar dari toko. Puas banget bisa ngerjain SPG, namun kasian sekali adikku Thoriq, dia terjebak dikerumunan SPG yang menawarkan banyak barang-barang. Lagi-lagi aku merasa Iba ngelihat adikku yang tak berdaya dan tampak kebingungan, aku berusaha minta bantuan satpol PP dengan tuntutan pemaksaan jual beli. Tak terduga, ternyata Adikku yang nggak kalah licik punya ide yang luar biasa untuk mengkelabuhinya.
“mbak.. .itu ada astronot”
SPG menoleh mencari “Hahh?? Kok bisa sampai sini ?? mana?? Mana??”
“adikku langsung ambil langkah lari” (Mitosnya, pada saat mau lari adikku ambil start jongkok dulu) emang sialan tu bocah.
  
                Kebingungan yang berkelanjutan membuat adikku Thoriq untuk kedua kalinya berada didilema yang luar biasa, sampai-sampai waktu antri dikasir dia mantengin bajunya terus dengan genggaman kedua tangan. Parahnya lagi, pas giliran dia mau bayar “kayaknya nggak cocok nih”, “yaudah, nggak jadi dek?” senyum petugas kasir. “Ammmpun deh !!” cuaca jogja semakin memanas begitu juga dengan suasananya. Bau-bau keringat preman sepertinya sudah mulai berkeliaran, suara pedagang yang menawarkan barangpun makin lantang.

                 Jujur, sebenarnya dari tadi keliling malioboro aku juga nyari jaket tapi nggak dapet-dapet, dan alhasil adikku Thoriq yang selalu aku kambing hitamkan, kasian.. .kasian.. .kasian, kota jogja telah menghalusinasikanku.

(Behind the scenes)
“Resek lu kak” adikku ngebaca disamping pas aku lagi ngetik
“Biarin, penulisnya siapa emang?”
“sldjsdlakjsdlkjlaksdljdhbcnzcbzxvillayhkjhckhsraafickclkdd” (rebutan keyboard)

 Lanjutt. ..

             Akhirnya bersikeras kita berdua ngedapetin barang idaman masing-masing, adikku beli kaos gaul (katanya sih), dan aku dapet jaket yang elegan (kata yang jual). “Capek !!”adikku memasang wajah mengkerut sok manja, “iya ntar kita istirahat dimasjid”. Dengan langkah Gentlemen agak mengendap-ngendap kita berdua menuju kemasjid buat istirahat.      
              Adikku Thoriq yang hobynya selalu memasang headsetnya ditelinga (selain maen Billyard) sepertinya dia sedang dengerin lagunya yui~Merry go round, habis itu dia bukak barang belanjaannya terus bilang “cocok nggak kak?” (nempelin baju kebadannya kepala agak dimiringin, ngaca di kaca mesjid)

(Lagi-lagi Behind the scenes)
“ahhh. .sialan lu kak, ngehancurin reputasi orang aja” lagi-lagi baca pas aku lagi ngetik
“sana pergi-pergi. ..”
“hdhsfhsjfjskfjdljalskdlksjldkjlskjdlkajdlkjslkjdlkjkjl” (rebutan keyboard tapi adikku malah nyabut kabel usb mouse) 

            Sebelumnya kita udah buat rencana, rencana “A” kita janjian ketemuan sama kakakku yang sok sibuk itu dimasjid, tapi karena strateginya beralih kecounter attack jadinya pakai rencana “B”, nungguin dihalte. Okee, ntar kalau kakak udah nyampai halte kita serang !!!

          Sehabis menyegarkan diri dengan air wudhu dan sholat dzuhur (Subhanallah), aku buka 3 sms yang udah bisa aku tebak itu sms pasti dari indosat yang  nawarin paket internet dan 2 sms dari kakakku Diqi karena smsnya belum aku bales. 
“Nikmati super 3g+ untuk internetan dg 25rb/bulan, inget 1bulan = 30 hari”
“sekarang dimana ud?” (sms petama)
Selisih 10menit
“sekarang dimana ud?” (sms kedua)
“ni dimasjid kak”
“yaudah ntar ketemuan dihalte aja, ni masih otw”
Aku yakin, kakakku masih makek sepatu sebelah kanan belum otw, karena menurutku otw itu 98% php.

         Sebenarnya kalau dipikir-pikir pakai logika matematika, tempat ini nggak jauh beda sama yang ada disolo "pasar klewer" hanya saja tempat ini mungkin lebih bergengsi untuk masalah belanjanya dan jumlah turis yang berkliaran.
                                                      *Waktu nungguin* Headset belum dipasang
 

          Matahari semakin memunculkan emosi yang membara, dan kakakku yang sok sibuk itu tak kunjung datang. Adikku Thoriq masih asik ndengerin musik, sesekali dia mengangguk-nganggukan kepalanya yang bikin aku tambah kesal. Ada lambaian tangan dari jauh sana, akupun penuh harapan.
“Ehh. ..itu kak Diqi bukan”
“woii riq !!” (kulepas headsetnya)
“iya bego” adikku lari menuju kakakku lalu mendelik kebelakang
“ehh. …sialan” aku kejar kekanan, adikku kekiri, kukejar kekiri adikku kekanan, iya kayak difilm-film gitulahh. (kalian bayangin aja)
“udah-udah, yang penting sekarang kita udah ngumpul tapi sorry, kunci kos temenku aku bawa, jadi yaaa. .”
“haa?? Nungguin lagi” potongku
Diantara ketiga orang cool itu akulah yang paling uring-uringan saat itu.
Bisa ditebak apa yang sedang dilakukan adikku Thoriq, dia cuman dengerin lagu dengan santainya.
Hening 15 menit. ..aku berusaha menenangkan diri
Hening 18 menit. ..aku mulai gelisah
Hening 22 menit. ..aku berusaha move on lagi
Dan hening 27 menit Alhamdulillah temen kakakku datang duluan sebelum aku ngamuk dimalioboro dengan jurus baruku “pukulan tupai terkutuk”.

           Karena kakakku yang memiliki sifat yang sama denganku, yaitu rasa “Iba”, maka kakakku ngajak temennya sekalian makan siang.
“ehh . .makan siang bareng sekalian !!”
“beneran san? Yaa. .nggak papa kalau dibayarin.hehe”
“ohh ya, kenalin ini adik-adikku”
“Raafi”, “ Yustiar, minuman kesukaan es jus” Jabat tangan (aku bingung)
“Thoriq”, “Yustiar, Hoby badminton” jabat tangan adikku semakin bingung tapi nanggepin
“ohh. .kalau hobyku dengerin musik”   
Aku dan kakakku ninggalin mereka, tau-tau dari belakang “tungguin woiii !!”
“sekarang mau makan apa nih?” kakakku Tanya dengan wibawa punya duit
“diluar area malioboro aja gimana?” usulku cerdik
“Iya terserahlahh, ngikut yang nraktir dong. Haha” (Aku yakin, yang ingin dipesen pertama kali pasti es jus)
“yaudah, ud, kamu jadi leader, terserah mau kemana, tapi dimalioboro aja” kakakku semena-mena
“Ha??” cek dompet, nunjukin ketemen kakakku kalau aku udah punya sim.
“Yaudah Bebek goreng aja gimana? Ntar tinggal pesen nasi empat sama Bebeknya 2.”

          Sampai di warung yang sangat berkesan itu.
“Bang, Ayam Bebek goreng 2 sama nasi putih 2” (aku kira ayam goreng udah 1 paket dengan nasi putih, jadinya dapet 4)
“ini mas”
Ha?? kok nasinya cuman 2? “Bebek gorengnya nggak sepaket sama nasi bang?”
“Nasinya sendiri mas.xixixi” pakai ketawa lagi
“Yaudah beli 2 lagi bang”

          Dan kami berempat berada di posisi yang sama, mantengin bagian paha Bebek goreng dengan ukuran kecil dan bingung cara mbaginya, semua belum melakukan serangan karena sifat iba telah menyebar.
“Yaudah, biar adik-adikmu makan duluan, kita pesen lagi aja, ntar aku yang bayarin”
“hlo, kok kamu yang malah bayar? Wahh jangan. .jangan.”
“iya ntar gampanglah”
“bang, ayam goreng 2”
 Aku dikejutkan dengan tingkah laku Kak Yustiar saat makan lalapan, “gila, dilahap semua, emang enak ya?” dan ntah kenapa setelah peristiwa itu, tiap beli ayam goreng aku jadi doyan lalapan.

          Waktu pembayaran sebaiknya nggak aku masukin dalam cerita, karena disaat itulah kak Yustiar sok-sokan mau ngluarin dompet yang padahal enggak.
“okee, thanks banget ya semuanya, yaudah aku pamit duluan kalau gitu."
“yapp, iya sama-sama yus.”
“sekarang kita mau kemana? Muter lagi atau ambil tiket kereta sekarang?”
adikku Thoriq yang dari tadi denger musik untuk masalah ini nyaut duluan
“nanti aja, masih pingin muter-muter lagi”
“yaudah, thoriq kamu jadi leader terserah kamu mau kemana, uud kamu turun pangkat jadi pion tolong bawain bawaannya Thoriq.”
“ha??maksutnya apa ini”

             Adikku thoriq langsung menuju ketempat toko baju yang pertama kali kita masukin tadi, kali ini dia lebih cepet milih baju karena dari tadi udah aku plototin dari kejauhan. 
"gimana? udah?"
"iyaa, udah-udah"
"udah jam 3 nih, kita langsung kestasiun"

         

                                                                *GoodBrother* Solo, kami pulang !!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar