Sabtu, 11 Agustus 2012

Banong Kimpul (Cireng Duka Cita)


      Seorang laki-laki masjid (imut) pekerja keras yang ikut terseret dalam dunia pertemananku, Anggri pamungkas atau kerap dipanggil dengan nama panggilannya yang memukau "siBanong", ntah perkataan pertama apa yang memulai kita untuk saling mengenal, yang jelas aku tak ingin mengingatnya. Dengan ciri khas potongan rambut yang dibuat modelnya sendiri, mencoba membuat tren baru yang selalu tidak laku dipasaran, ironisnya anak muda ini. 

                                                                                    *Eksotis* Good job !!




       Tapi, betapa luar biasanya anak muda ini (imut), anak laki-laki yang sudah memulai bekerja serabutan dimasa masih mengejar ilmu, kepopularitasan anak muda yang dipertaruhkan, dan cireng adalah segalanya baginya, makanan tren sesaat itu menjadikannya orang populer disekolah dengan status penjual cireng tentunya. Terkadang Aku dan siJohn mampir untuk mencicipinya, teman atau bukan, kenal atau tidak, kita tetap harus membayarnya. Uang 1000ku harus hilang untuk mengganjal rasa laparku, terkadang uang 2000 ku yang harus hilang kalau siJohn lagi nggak bawa duit, adalagi kalau siAkmal tau-tau ikutan nongol didepan pintu dengan siulan merdunya, uangku harus hilang 3000, dan 4000 kalau aku mau nambah lagi, sungguh duka cita cireng.

       Aku teringat perkataan siBanong yang aku karang sendiri "Apa salahnya jadi orang ganteng? dan apa salahnya mencintai wanita yang juga kamu cintai?", rupanya dia ingin bersaing denganku, merebutkan wanita idaman yang kukejar selama ini, aku tau itu hanya kata-kata bercanda yang mencoba menghiburku, tapi aku harus menahan pengejaranku untuk sementara demi masa depanku. Seperti salah satu sosok pejuang cinta yang menginspirasiku, Arai (tokoh novel Sang Pemimpi), kesungguhan cinta Arai kepada Zakiah Nurmala dibuktikannya dengan bermusik didepan rumah sang pujaan hati dan berhasil mendapat senyum walau hanya dibalik jendela, tidak hanya dengan rayuan gombal yang Arai buktikan, tapi dangan awal perjuangan Arai menuju jakarta agar dapat bersekolah diUniversitas Indonesia. Sungguh kisah klasik yang menginspirasi, menunjukan bahwa yang diinginkan seorang wanita adalah bukti bukan puisi.
                  
       Kembali ke siBanong, sebenarnya tidak ada yang spesial keberadaan siBanong dalam kisahku, tapi keberadaan dia sangat membekas dalam kisah ini. Seorang murid yang kedatangannya selalu ditunggu dan selalu mengejutkan saat jam pelajaran berlangsung, dengan topi biru tua yang mengganjal dikepalanya, mengapa harus TOPI?? itu yang masih dalam perbincangan hangat saat itu. Jarak rumah kesekolah yang hanya 223m jika diukur dengan jangka sorong (228,5m jika diukur dengan mikrometer sekrup) itu membuat kedatangannya hampir setiap saat telat seolah ingin membuatnya tampil beda. 


                                                           Seenggaknya kita pernah foto barengkan :)


(Sinopsis novel Kuda coklat ~ "Seorang Gentlemen Yang Sulit Menerima Kenyataan")

2 komentar:

  1. akhirnya setelah ditunggu tunggu, ada juga yang sudi ngomen entry ini.
    NB : Juga Kangen banong

    BalasHapus